Salah Kaprah SKTM

Salah Kaprah SKTM

Salah Kaprah SKTM

Pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini, Surat Keterangan Tidak Mampu

(SKTM) mendadak viral. Berbagai status “kecewa” nampak jadi ungkapan kekesalan orang tua calon siswa yang merasa dirugikan namun tak sanggup mengaku miskin hanya gara-gara ingin putra-putrinya ingin masuk sekolah negeri. Di lain pihak, banyak orang tua justru dengan sengaja membuat surat keterangan miskin dan sukarela menyandang predikat miskin demi masuknya sang buah hati ke sekolah impian.

SKTM adalah surat keterangan tidak mampu yang dibuat melalui permohonan masyarakat kepada ketua RT, RW, dan kelurahan, yang menyatakan bahwa warga yang meminta surat tersebut benar-benar miskin.

Lantas, apa itu miskin? Miskin dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dinyatakan sebagai keadaan di mana seseorang  tidak berharta atau serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Sedangkan menurut Yasin Ibrahim sebagaimana yang diungkapkan oleh M. Ridlwan Mas’ud dalam bukunya Zakat dan Kemiskinan, orang miskin yaitu orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka kebalikan dari orang-orang kaya yang mampu memenuhi apa yang diperlukannya.

Artinya, orang miskin yang dikehendaki mendaftar dengan menggunakan SKTM

adalah orang yang boro-boro mampu membayar uang sekolah, kadang untuk makan saja sulit. Atau orang yang hidup jauh di bawah rata-rata, orang yang ketika memerlukan uang untuk hal yang kecil saja sulit. Mungkin secara kasat mata, dan dengan penglihatan hati kecil kita, kita faham siapa yang disebut miskin. Namun, entah mengapa masyarakat seakan-akan merasa rugi untuk membiayai pendidikan anak-anaknya sendiri, sehingga mengorbankan saudara-saudaranya yang justru harus ditolong agar bisa sekolah dan hidupnya tidak terganggu dengan beratnya sekolah itu sendiri.

Kalau masyarakat mampu berbondong-bondong “mendadak miskin”,

lantas, si miskin jadi apa? Harusnya status mereka turun satu tingkat, yaitu menjadi fakir. Asy-Syafi’i berkata bahwa orang fakir lebih kesusahan daripada orang miskin. Orang miskin adalah orang yang memiliki harta/penghasilan, namun tidak mencukupinya, sedangkan orang fakir adalah orang yang tidak memiliki harta/penghasilan sama sekali. Tingkat kemiskinan yang digadang-gadang menurun, untuk saat ini meningkat drastis. Lebih tepatnya, masyarakat telah miskin hati nurani dengan menghalalkan banyak cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau.

 

Sumber :

https://ruangseni.com/