Pengertian Lingkungan Hidup Dan Sejarahnya

Pengertian Lingkungan Hidup Dan Sejarahnya

Lingkungan Hidup

Sejarah perkembangan peradaban manusia

Sejarah perkembangan peradaban manusia tidak bisa dilepaskan dari perkembangan hubungan manusia dengan alam termasuk hubungan manusia dengan sungai. Tengok sejarah peradaban Mesir yang termashur, tidak bisa dilepaskan dari aliran Sungai Nil. Demikian dengan Sungai Eufrat dan Tigris yang menjadi pusat perkembangan peradaban Mesopotamia. Mesopotamia yang sangat terkenal itu memiliki arti ‘di antara sungai-sungai’. Sejarah perkembangan masyarakat modern-pun tidak bisa dilepaskan dari adanya sungai. Seperti masyarakat India yang tidak hanya menjadikan sungai sebagai sumber air, tapi lebih dari itu sungai merupakan sumber kehidupan yang harus dihormati bahkan dijaga kesuciannya.

Sungai juga bisa menjadi alat kontrol kekuasaan yang memiliki dimensi politik yang kuat

Seorang sejarawan dari Jerman, Karl A. Wittfogel, dalam bukunya Oriental Despotism: A Comparative Study of Total Power (1957) menggambarkan adanya hubungan yang erat antara kekuasaan dengan kontrol atas penguasaan sungai. Penelitian yang dilakukan Wittfogel di China menunjukkan pada masa itu pemerintah kerajaan China mengontrol masyarakat melalui pengelolaan sungai, dengan membangun pola pertanian yang memiliki ketergantungan pada sistem irigasi yang kompleks terutama model irigasi dengan membangun bendungan-bendungan besar. Masyarakat dipaksa mengikuti model-model ekonomi politik yang ditawarkan penguasa jika ingin mendapatkan akses irigasi, sehingga sebagian besar petani tidak memiliki kontrol atas pilihan ekonomi dan politik mereka sendiri.
Bukan saja Negara lain yang memiliki sejarah panjang perkembangan hubungan sungai dengan manusia, tetapi juga Bangsa Indonesia. Terdapat banyak cerita yang menghubungkan kehidupan masyarakat dengan keberadaan sungai di Indonesia, termasuk Sungai Ciliwung. Restu Gunawan tanpa ragu menyatakan Sungai Ciliwung merupakan pusat peradaban. Kata Sungai Ciliwung berasal dari kata Ci yang berarti sungai dan Haliwung (dalam bahasa Sunda) yang berarti “keruh”. Pada awal keberadaan manusia yang tinggal di sekitar Ciliwung, masyarakat menjadikan Sungai Ciliwung sebagai pusat pertemuan penduduk yang tinggal di pinggiran seperti di Cikeas dan Cibinong dengan masyarakat yang tinggal di atas yaitu Condet melalui sarana pelayaran. Sungai Ciliwung sebagai media pelayaran bisa dilihat dari keberadaan Sunda Kelapa yang tidak berada persis di tepian pantai, tetapi masuk muara Sungai Ciliwung. Kondisi ini mendorong Pelabuhan Sunda Kelapa berkembang menjadi pusat kegiatan  ekonomi sekaligus pusat pemerintahan yang dibangun dan dikembangkan Belanda sejak tahun 1600-an melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Sungai Ciliwung pada saat itu memungkinkan dimasuki sepuluh kapal dagang yang berkapasitas 100 ton dengan kondisi air Sungai Ciliwung yang mengalir bebas tidak berlumpur dan tenang (Restu Gunawan, 2010; 33).

Sungai Ciliwung

Sungai Ciliwung juga berkembang menjadi sumber pengairan bagi pertanian di kawasan Jawa Barat dan Jakarta. Pembangunan Bendung Katulampa yang berada di aliran Sungai Ciliwung sebagai bangunan peninggi air (weir) juga memiliki fungsi irigasi yang dialirkan ke Oosterslokan (selokan timur). Pada tahun 1776, Belanda juga menggali kanal di bawah Bogor yang diambil dari Sungai Cisadane untuk dialirkan ke Sungai Ciliwung. Kanal ini kemudian dikenal dengan Westerslokan. Westerslokan mengaliri lahan persawahan di Cilebut, Citayam, Depok, Pondok Cina, Tanjung Barat, dan Pondok Labu. Sementara Oosterslokan mengairi persawahan Cibinong, Tapos, Cilangkap, Cimanggis, Cilosong, Tanjung Timur, Kampung Makasar, Cililitan, Cawang, Kemayoran, Gedong Rubuh, dan Kelapa Gading (Restu Gunawan, 2010; 20 – 23).

Sungai Ciliwung

Saat ini Sungai Ciliwung sudah tidak lagi digunakan sebagai sarana transportasi, meskipun ide-ide untuk kembali menggunakan Sungai Ciliwung sebagai sarana transportasi air sempat muncul di tahun 2007. Namun ide-ide tersebut menemui banyak kendala dengan tingginya sedimentasi di sepanjang aliran Sungai Ciliwung. Berdasarkan catatan sejarah yang ada, sedimentasi Sungai Ciliwung sesungguhnya telah terjadi sejak masa Belanda ketika Belanda membangun perkebunan teh di kawasan Puncak. Kerusakan Sungai Ciliwung diperparah dengan meletusnya Gunung Salak yang terjadi di tahun 1699 dan pendirian pabrik-pabrik gula di Senen dan Tanah Abang. Sekarang kerusakan Sungai Ciliwung bukan saja karena keberadaan kebun teh, tetapi juga pengelolaan sungai yang belum terintegratif antara hulu dengan hilir sungai.

Ciliwung

Ciliwung adalah sungai yang mengalirkan air hujan berlebih dari daerah aliran Sungai Ciliwung seluas 30.000 hektar. Di masa lalu aliran sungai ini masih terkendali, aman, memberikan kenyamanan, baik sebagai sumber air mineral, mencuci, mandi, air irigasi, industri, maupun untuk penggelontoran sampah-sampah Jakarta. Aliran Ciliwung jarang meresahkan, mengganggu kenyamanan, menghilangkan harta benda, apalagi menghilangkan nyawa.
Namun akhir-akhir ini, paling tidak 5-10 tahun terakhir, aliran Ciliwung sudah berkali-kali memberikan ketidaknyamanan, tidak mencukupi kebutuhan air minum, mandi dan mencuci pada musim kemarau. Di musim hujan alirannya menggenangi dan membanjiri banyak lokasi, bahkan menghilangkan harta benda dan nyawa beberapa warga Jakarta yang bertempat tinggal di sepanjang flood plam sungai itu.
Tampaknya frekuensi dan intensitas ketidaknyamanan yang diberikan Sungai Ciliwung semakin tinggi. Kalau dahulu ketidaknyamanan tersebut hanya dialami oleh beberapa tempat saja dan paling paling 5-10 tahun sekali, maka kini genangan dan banjir sudah lebih luas cakupannya. Genangan dan banjir semakin tinggi serta frekuensinya sudah hampir dua atau tiga tahun sekali atau sekali setiap tahun dan bahkan dalam setahun pun dapat terjadi beberapa kali.
Rentang waktu kekurangan air minum pada musim kemarau atau kebanjiran pada musim hujan pun sudah semakin panjang. Hal inilah yang menggiring kita untuk mengatakan bahwa Ciliwung sudah semakin liar tidak terkendali.
Liarnya aliran Ciliwung disebabkan oleh kita semua, warga yang hidup di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung termasuk pemerintah (pemerintah daerah dan pusat).
Namun, kalau mau diurut siapa yang memberikan kontribusi yang paling besar terhadap terjadinya banjir tersebut, maka penilaiannya harus dikaitkan dengan faktor-faktor yang menyebabkan banjir. Kalau faktor curah hujan, jenis tanah, dan topografi wilayah adalah faktor penyebab banjir yang kita terima sebagaimana adanya tanpa bisa menolak. Maka, faktor penggunaan lahan dan pengelolaan lahan adalah faktor penyebab utama yang membuat kontribusi masing-masing warga menjadi berbeda terhadap terjadinya banjir.
Berdasarkan penggunaan lahan tahun 1996, ternyata daerah permukiman (11.590 ha) merupakan penggunaan lahan terluas di DAS Ciliwung dan diikuti secara berurutan oleh pertanian tegalan (7.770 ha), kebun campuran (5.730), hutan (5.094 ha), sawah (1.665 ha), dan penggunaan lainnya (724 ha).
Karena setiap tipe penggunaan lahan mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menginfiltrasikan (meresapkan) air hujan ke dalam tanah, maka jumlah air hujan yang meresap ke dalam tanah dan yang mengalir di atas permukaan tanah akan berbeda pada setiap tipe penggunaan lahan. Proporsi air hujan yang mengalir di atas permukaan tanah pada setiap penggunaan lahan dikenal dengan istilah koefisien aliran permukaan atau koefisien limpasan.
Besarnya koefisien aliran permukaan itu memang masih dipengaruhi oleh tipe tanah dan pengelolaan (manajemen) lahan. Dengan adanya perbedaan manajemen lahan dan permukaan lahan, maka nilai koefisien limpasan di daerah permukiman berkisar dari 25-40 persen di pinggiran kota dan pedesaan, 35-70 persen di perkotaan, 50-90 persen di daerah industri, 50-95 persen di daerah perkotaan dan perdagangan. Di daerah pertanian besarnya koefisien limpasan berkisar 21-65 persen, daerah penggembalaan 17-23 persen, dan di daerah hutan adalah 2-15 persen.
Berdasarkan luas dan nilai koefisien limpasan daerah permukiman adalah yang terbesar, maka kontribusi daerah permukimanlah (desa, kota, perdagangan, dan industri) yang terbesar mengakibatkan banjir Ciliwung, disusul oleh daerah pertanian (tegalan dan kebun campuran).

DAS Ciliwung

Kalau DAS Ciliwung dibagi tiga, menjadi bagian hulu mulai dari Gunung Pangrango sampai Stasiun Katulampa, bagian tengah mulai dari Katulampa sampai Stasiun Ratujaya (Depok), dan bagian hilir dari Ratujaya sampai Stasiun Manggarai, ternyata kontribusi bagian tengah adalah yang terbesar pada banjir Jakarta.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan mahasiswa PS DAS-IPB melalui simulasi model, dengan data penggunaan lahan tahun 1996 dan curah hujan 88 mm pada 11 Februari 1996, maka debit Stasiun Katulampa hanya 205 m3 debit di Stasiun Ratujaya 320 m3dan debit diStasiunManggarai383m3.
Data tersebut menunjukkan bahwa kontribusi bagian hulu hanya 33 persen, tengah 35 persen, dan hilir 32 persen. Proyeksi penggunaan lahan sampai tahun 2012 yang didasarkan pada trend perubahan 1990-1996 menunjukkan bahwa daerah permukiman akan meningkat menjadi 48 persen, tetapi kebun campuran dan tegalan menurun menjadi hanya 12 persen dan 17 persen. Hal ini akan meningkatkan koefisien limpasan meningkat menjadi 48 persen di bagian hulu, 60 persen di bagian tengah, dan 65 persen di bagian hilir.
Konsekuensi selanjutnya adalah peningkatan debit aliran sungai menjadi 280 m3.Perubahan penggunaan lahan dari pertanian (tegalan dan kebun campuran) menjadi permukiman di bagian tengah dan hilir DAS Ciliwung tampaknya lebih cepat daripada proyeksi tahun 2012 karena besarnya tekanan penduduk. Hal ini akan mengakibatkan kontribusi bagian tengah DAS terhadap banjir Jakarta semakin besar. Apabila tidak ada inisiatif mengatasi perubahan itu, maka aliran Ciliwung akan menjadi lebih tidak terkendali dan bahkan dapat menenggelamkan Jakarta.
Untuk menghindarkan Jakarta dari amukan banjir yang lebih dahsyat, maka Sungai Ciliwung harus dijinakkan dengan debit aliran di Stasiun Ratujaya (Depok) tidak melebihi 350 m3. Apabila penjinakan dilakukan (seperti menjinakkan hewan dengan memasukkannya ke dalam kerangkeng atau borgol) melalui pembangunan tanggul atau menggali saluran tambahan, memang masalahnya akan berkurang untuk sesaat. Namun, apabila ada energi baru, yaitu curah hujan yang lebih tinggi dengan periode ulang lebih lama, maka bahaya dan kerugian akan lebih besar karena kapasitas tampung akan terlewati dan daerah sekitar sudah terbangun.
Oleh sebab itu, penjinakannya harus lebih konseptual, yaitu mengatasi akar persoalannya dan akar penyebabnya. Penyebab terjadinya banjir adalah menurunnya infiltrasi yang mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuan lahan serta memperlakukannya tidak sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan.
Oleh sebab itu, penggunaan lahan setiap jengkal lahan di dalam DAS Ciliwung harus di tata agar sesuai dengan kemampuannya. Kemudian pengelolaan dan perlakuan pada lahan tersebut harus juga sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan. Kedua hal ini harus dilakukan secara terus-menerus. Karena penggunaan lahan yang paling besar konstribusinya terhadap banjir adalah permukiman dan pertanian, maka dalam penjinakan aliran Ciliwung harus di fokuskan pada penataan dan pengelolaan permukiman dan pertanian. Koefisien limpasan di kedua penggunaan lahan ini harus ditekan menjadi serendah mungkin.
Di daerah permukiman penurunan koefisien limpasan dapat dilakukan dengan membuat pedoman pembangunan rumah dan menerapkannya agar air hujan di setiap rumah/bangunan tidak dialirkan ke selokan, tetapi diresap ke dalam tanah atau ke dalam sumur resapan. Di daerah pertanian penurunan koefisien limpasan air dapat dilakukan dengan menerapkan tindakan konservasi tanah yang memadai dan cocok untuk setiap usaha tani.
Pilihan tindakan konservasi tanah tersebut sangat bergantung pada jenis tanah, jenis usaha pertanian, dan kemiringan lereng lahan. Pedoman pemilihan tindakan dan teknik konservasi tanah tersebut agar cocok dan memadai bagi setiap usaha tani harus diadakan oleh pemerintah.
Tindakan dan teknik konservasi tanah yang sudah banyak di terapkan antara lain pengolahan tanah konservasi, penanaman dan pengelolaan tanah menurut kontur, pembuatan guludan, rorak, sengkedan, teras gulud, teras bangku, pemakaian mulsa sisa tanaman, penggunaan pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk buatan, penanaman tanaman penutup tanah, tanaman pagar, dan penanaman pohon.
Di samping itu, penurunan koefisien limpasan seluruh DAS dapat juga dilakukan dengan pembangunan check dam terutama di bagian hulu dan tengah DAS serta situ-situ di bagian tengah dan hilir DAS.
Untuk penataan penggunaan lahan, pengaturan pengelolaan lahan, penerapan tindakan dan teknik konservasi tanah, serta pembangunan check dam dan situ-situ diperlukan kerja sama Pemerintah Provinsi DKI dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kerja sama antara hulu dan hilir dalam penanggulangan banjir atau pelestarian sumber daya air memang sangat diperlukan dan merupakan suatu keharusan.
Idealnya penanggulangan banjir dan pelestarian sumber daya air harus direncanakan, dilaksanakan, dipantau, dan dievaluasi oleh suatu badan dengan prinsip satu sungai satu perencanaan (one river one plan).