Nasib Guru Honorer Tak Menentu

Nasib Guru Honorer Tak Menentu

Nasib Guru Honorer Tak Menentu

SOREANG – Harapan yang terus dilontarkan dari ribuan guru Honorer terus saja disuarakan.

Kali ini, mereka mengingikan agar Pemkab Bandung (Pemkab) serius memperhatikan kesejahteraan para guru Honorer yang masih diberikan gaji seadanya.

Ketua Forum Guru Honorer Sekolah (FKGHS) Kabupaten Bandung, Toto Ruhiat mengatan, selama ini kehidupaan para Guru Honorer cukup memprihatinkan. Sebab, dari penghasilan yang diterimanya sebetulnya sangat tidak manusiawi untuk hidup.

Selain itu, banyak dari guru Honorer yang mengajar dengan masa kerja 5 tahun lebih.

Bahkan, banyak juga yang sudah mengandikan hidupnya didunia pendidikan selama puluhan tahun.

“Sayangnya perhatian dari pemerinatah sampai detik ini masih tidak bergeming dan tidak mau memperhatikan nasib guru honorer,”jelas Toto ketika ditemui kemarin (24/11)

Dirinya mengharapkan, secara ideal, seharusnya penghasilan guru honorer bisa disamakan dengan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang berlaku. Sehingga, bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Toto menyebutkan, keberadaan guru honorer di Kabupaten Bandung kurang lebih sebanyak 11 ribu orang dengan penhasilan per bulan antara 200 ribu sampai 500 ribu per bulan

“Bisa dibayangkan bagaimana rumitnya kehidupan kami. Nah untuk menutupi kekurangan itu,

kami bertahan hidup dengan mencari nafkah bidang lain, ada yang ngojek, berdagang dan lain sebagainya,” kata Toto.

Selain beban hidup, kata Toto, beban pekerjaan mereka juga tergolong berat. Karena meskipun secara formal terdapat aturan porsi beban kerja setiap guru disetiap sekolah. Namun, pada kenyataannya, guru honorer jauh lebih berat ketimbang guru yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sebab, setiap hari, mereka mengajar di kelas rata rata perhari dimulai dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB.

“Kalau aturannya sih yah memang bagus, tapi kenyataannya di lapangan beban kami yang honorer lebih berat. Karena banyak guru yang sudah PNS malah santai santai,” ungkapnya.

Dirinya memaparkan, selama ini penghasilan guru honorer hanya berdasarkan 15 persen dari Dana Operasional Sekolah (BOS) yang diterima sekolah. Tetapi, jumlah terbilang kecil dan harus di bagi dengan guru honorer lainnya.

 

Sumber :

https://egriechen.info/