Muhammadiyah Protes Mendikbud

Muhammadiyah Protes Mendikbud

Muhammadiyah Protes Mendikbud

Muncul kabar kontroversial di tengah program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud) membenahi Kurikulum 2013 (K-13). Yakni, rencana pemerintah menghilangkan kompetensi inti (KI) 1 yakni sikap spiritual dan KI 2 (sikap sosial). Merasa keberatan atas rencana itu, Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah menyurati Mendikbud Anies Baswedan.

Dalam surat tertanggal 25 Maret itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menjelaskan informasi penghapusan KI 1 dan KI 2 itu telah berkembang dalam beberapa workshop evaluasi K-13. Menurut Din, KI 1 yang terkait perkembangan sikap spiritual siswa sudah sesuai dengan semangat Pancasila. ’’Indonesia itu negara Pancasila. Bukan negara agama atau negara sekuler,’’ jelasnya.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu lantas mengatakan

, penekanan sikap spiritual dan sosial dalam pembelajaran seperti di K-13 sangat penting. Sebab proses pembelajaran mampu membentuk kepribadian peserta didik. ’’Selama ini (sebelum K-13, red) guru pada umumnya hanya memberikan penekanan pada materi pelajaran untuk tujuan kognitif siswa,’’ tandasnya.

Menanggapi surat itu, Mendikbud Anies Baswedan membantah ada penghapusan KI 1 dan KI 2 tersebut. Menurut dia, Kemendikbud justru ingin memastikan ada kesinambungan antara ide dengan implementasi di kelas. ’’Sehingga KI 1 dan KI 2 yang ada selama ini dijalankan dalam KD (kompetensi dasar, red) dengan baik,’’ ujar mantan rektor Universitas Paramadina Jakarta itu saat dihubungi belum lama ini.

Penjelasan lebih rinci disampaikan Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk)

Kemendikbud Ramon Mohandas. Ramon mengatakan, selama ini terjadi kerancauan dalam pengelompokan empat buah KI. Selain sikap spiritual dan sikap sosial, KI lainnya terkait dengan sikap pengetahuan dan sikap keterampilan.

Ramon menjelaskan, kompetensi inti yang terkait dengan sikap spiritual dan sosial akan diposisikan di atas kompetensi pengetahuan dan keterampilan. ’’Jadi KI 1 dan KI 2 tidak lagi sejajar dengan kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Jika dikatakan Kemendikbud menghapus KI 1 dan KI 2, itu salah paham,’’ ujar Ramon.

Menurut Ramon selama ini muncul kesulitan ketika para guru harus menyisipkan muatan-muatan

spiritual dan sosial dalam setiap materi pelajaran. Sebab, memang tidak disiapkan muatan-muatan spiritual dan sosial dalam buku pelajaran yang disiapkan.

Setelah KI 1 dan KI 2 ditarik lebih tinggi, Ramon mengatakan muatan spiritual dan sosial tidak lagi diajarkan secara langsung. Tetapi, diterapkan dengan kepribadian sehari-hari seorang guru. ’’Sikap spiritual dan sosial bukan diajarkan, tetapi pembiasaan sehari-hari oleh guru,’’ ujarnya.

 

Sumber :

https://blog.fe-saburai.ac.id/sejarah-gunung-krakatau/