Melihat Potensi Siswa Berkebutuhan Khusus di Festival Kewirausahaan SLB

Melihat Potensi Siswa Berkebutuhan Khusus di Festival Kewirausahaan SLB

Melihat Potensi Siswa Berkebutuhan Khusus di Festival Kewirausahaan SLB

Kemendikbud — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) terus berupaya melakukan pembinaan keterampilan terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK). Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengembangkan potensi peserta didik berkebutuhan khusus dalam bidang kewirausahaan melalui kegiatan lomba, yaitu Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia SLB (FIKSI SLB). FIKSI SLB tahun ini berlangsung di Kawasan Kota Tua Jakarta, tepatnya di halaman Museum Seni Rupa dan Keramik, pada tanggal 28 s.d. 30 Juli 2017.

Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK),

Sri Renani Pantjastuti mengatakan, Sekolah Luar Biasa (SLB) mempunyai tugas melayani anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan hak pendidikan mulai dari jenjang sekolah dasar hingga menengah. “Kurikulum pendidikan khusus yang disiapkan Kemendikbud memberikan penekanan besar terhadap peningkatan kemampuan keterampilan. Semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin besar proporsi pendidikan keterampilan yang diberikan,” katanya di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, Sabtu (29/7/2017).

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen), Hamid Muhammad mengatakan Kemendikbud akan terus memfasilitasi kegiatan semacam ini untuk mengeksplorasi dan menampilkan kreativitas dan karya anak berkebutuhan khusus (ABK). “Mereka (ABK) sebenarnya mempunyai kemampuan yang berbeda dan luar biasa kalau dikembangkan dengan baik. Direktorat PKLK akan terus memfasilitasi ABK untuk menampilkan karya dan potensinya serta semua kemampuan yang mereka miliki,” tutur Hamid.

Ia juga mengimbau orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk memasukkan anak-anak

mereka ke lembaga pendidikan. “Jadi kalau masih ada ABK yang tidak bersekolah tolong kirim ke sekolah-sekolah, baik SLB ataupun inklusi. Mohon dukungan dari semuanya bagi anak-anak yang punya kemampuan berbeda ini agar mereka tampil mengembangkan potensinya,” ujar Hamid.

Pameran produk kreatif dan inovatif menjadi salah satu lomba dalam rangkaian kegiatan FIKSI SLB tahun 2017. Sebanyak 34 stand dari 34 provinsi meramaikan pameran dengan memamerkan berbagai produk unggulan yang diproduksi para siswa berkebutuhan khusus. Produk unggulan tersebut antara lain kerajinan tangan, produk tekstil, dan makanan khas daerah masing-masing. Setiap stan dinilai oleh dewan juri untuk penentuan pemenang lomba pameran.

Posman, Ketua Dewan Juri Pameran FIKSI SLB 2017 mengatakan, kriteria penilaian

stan antara lain kreativitas stan, produk yang dipamerkan atau dijual, jumlah pengunjung, dan omset penjualan. “Kita tanya produk unggulannya apa, lalu apakah dibuat sendiri oleh siswanya (berkebutuhan khusus). Produk unggulan yang dibuat siswa berkebutuhan khusus itulah yang kita nilai,” katanya di tengah-tengah pameran.

Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) SLB 2017 merupakan upaya mewujudkan pelayanan pendidikan yang optimal untuk mencapai kemandirian bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan keterampilan bagi peserta didik di SLB. Tema FIKSI SLB Tahun 2017 adalah “Inovasi Kewirausahaan Siswa sebagai Wujud Pelaksanaan Kurikulum 2013 Pendidikan Khusus dengan Bercirikan Khas Daerah”.

Dengan Adanya FIKSI SLB Tahun 2017, aktualisasi diri siswa ABK untuk berkreasi dan berinovasi di bidang kewirausahaan dapat lebih dikembangkan, tersalurkan dan diharapkan kegiatan FIKSI akan memberikan dampak positif bagi kemampuan para peserta didik berkebutuhan khusus, peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing bagi para siswa berkebutuhan khusus. (Desliana Maulipaksi)

 

Sumber :

https://sel.co.id/